#PLAYINPROGRESS


Mimpi apa dapet kesempatan untuk berkarya di satu ruangan penuh di Plaza Indonesia?

Suatu hari, teman lama yang bernama Acit yang bekerja di Plaza Indonesia menawarkan kesempatan itu. “Lo bisa bikin apa aja Benk disitu, terserah.”

Walaupun kesempatan dan kepercayaan itu dateng untuk gue sendiri, tapi rasa-rasanya kok sayang ya kalo tidak digunakan juga untuk berkolaborasi supaya lebih seru dan “gaung” projeknya juga lebih luas. Akhirnya tanpa pikir panjang langsung terlintas nama-nama teman seniman yang lain yaitu Ican Agoesdjam, Muklay dan Rebellionik.

Ketiga orang teman-teman seniman ini gue yakin bisa menambah keseruan eksplorasi medium dan visual untuk sebuah projek pameran kolaborasi yang kemudian gue beri nama #PlayInProgress.

Secara nama dan konsep #PlayInProgress lahir dari pemikiran gue suatu hari yang memelesetkan kata #WorkInProgress.

Dasar pemikiran pertama adalah: kalau kita cinta dengan apa yang kita kerjakan seharus bekerja akan terasa seperti bermain, sebuah aktifitas yang penuh dengan eksplorasi dan perasaan yang jauh dari rasa takut untuk melakukan kesalahan, dan yang pasti menyenangkan.

Jadi kenapa harus pake tema #WorkInProgress? Kenapa nggak #PlayInProgress? Dan ‘bermain’ selalu lebih seru jika dilakukan bersama-sama. Itu juga salah satu hal yang membuat gue yakin bahwa proyek ini bisa menjadi sebuah kolaborasi yang harmonis.


Dasar pemikiran kedua adalah: bahkan untuk orang-orang yang melakukan sesuatu karena cinta pasti ada saat-saat dimana merasa jenuh, mentok ide dan sebagainya. Kalau buat penulis biasanya orang sebut sebagai writer’s block– intinya sih jenuh, bosen, merasa ‘mentok’. Dalam kondisi seperti itu, penting untuk pelaku kembali ke kesadaran bermain untuk bereksplorasi tanpa batas dan kembali ke alasan awal mengapa mereka melakukannya.

Selalu ada ruang untuk bermain dan berimajinasi dalam keadaaan yang suram sekalipun. Ini adalah satu alasan mengapa digunakan medium ultraviolet yang menyala dalam kondisi ruangan yang gelap.

Secara eksekusi, sesuai dengan nama #PlayInProgress maka pelaksanaannya dilaksanakan secara berkala dan bertahap selama kurang lebih 2 bulan.

Di bulan pertama gue menyiapkan ruangan dengan melukis seluruh bidang (atas, bawah dan seluruh tembok) dengan fast lines, tidak lupa memasang 3 buah karya untuk dipasang di tembok yaitu Play, Team of Six dan I’m a Work of Heart. Ican juga melengkapi #PlayInProgress dengan motion video yang diputar di layar yang dipasang di dalam ruangan.

Pada bulan kedua, karya Muklay dan Rebellionik melengkapi keseluruhan konsep #PlayInProgress dengan karyanya masing-masing.


Sangat tidak menyangka bahwa #PlayInProgress mendapatkan respon yang luar biasa, sampai beberapa teman mengatakan #PlayInProgress masuk ke dalam kategori viral di media sosial. Boro-boro berpikir dan merencanakan untuk menjadi viral. Di salah satu malam-malam panjang saat mengerjakan karya-karya #PlayInProgress gue sempat berpikir, “Gila juga ya gue malem-malem (berkarya) disini? Siapa juga yang bakal dateng kesini? Lokasinya jauh dan siapa juga gue?”

Tapi disatu sisi, dalam hati gue bilang, “Bodo ah, selesaiin aja semaksimal mungkin.”

Banyak variabel yang mendukung aspek ‘keberhasilan’ (jika gue bisa bilang untuk gue pribadi) #PlayInProgress tanpa mengurangi rasa hormat teman-teman yang sudah datang, utamanya gue ingin mengucapkan terima kasih Plaza Indonesia melalui Acit yang secara khusus memberikan kesempatan untuk gue berkarya disana melalui #PlayInProgress.

Kemudian untuk Diaz, Jin, Ican, Muklay, Rebellionik dan seluruh orang-orang yang membantu gue dalam mengerjakan #PIP. Terima kasih juga untuk teman-teman yang sudah berkunjung dan meramaikan media sosial dengan foto-foto. Tahun depan bikin lagi gak nih? Hehehe.




A/A

No comments :

Post a Comment