MEMBUKA 2018


Memulai blog ini dengan harapan minimal at least gue setor tulisan sebulan sekali (resolusi 2018 :D). #JurnalAbenkAlter yang biasanya ada di Youtube Channel, gue putuskan juga untuk diekspresikan dalam bentuk tulisan karena gue menemukan ada hal-hal yang lebih ideal (menurut gue) untuk ditulis. Plus sekalian gue latihan nulis juga :D

Membuka 2018 dengan satu pengalaman yang luar biasa. Awal Januari kemarin gue menerima undangan dari sebuah inisiatif sosial bernama Manusaya Project. Manusaya Project adalah inisitatif sosial yang fokus kegiatannya berhubungan dengan pemberdayaan manusia, dalam hal ini secara spesifik adalah anak-anak. Melalui e-mail mereka meminta gue untuk turut berkontribusi dalam sebuah acara yang juga menjadi ajang launching mereka sebagai sebuah inisiatif.

Bentuk kontribusi yang diharapkan adalah mereka meminta gue untuk sharing selama 15 menit dan turut serta dalam sesi melukis bersama. Yang menarik dalam kesempatan ini adalah hal di atas dilakukan di dalam LAPAS bersama anak-anak yang sedang menjalani masa 'hukuman' di dalamnya. Pikir gue, “Wah, gue belum pernah berkunjung ke LAPAS atau Lembaga Pemasyarakatan (baca: penjara), menarik juga nih”.

Sambil di dalam hati lumayan campur aduk perasaan antara excited sama deg-degan juga  karena nggak bisa ngebayangin kaya apa di dalam sana dan juga bagaimana anak-anak disana. Bagaimanapun stigma masyarakat terhadap penjara selalu ada, ya contohnya gue ini :)

Singkat cerita, sampailah gue disana dan bertemu dengan temen-temen Manusaya Project. Ada beberapa hal yang membuat gue tertegun dan agak shock, dimana ternyata Lapas Salemba ini ternyata bukan tempat khusus untuk anak-anak, namun ini disini Lapas disatukan dengan para narapidana dewasa.

Fokus perhatian gue kemudian adalah:
1. Meski ada area tersendiri anak-anak, namun karena ini adalah satu gedung maka pastinya ada jam-jam dimana mereka berkumpul dan melalukan interaksi dengan narapidana dewasa.
2. Kondisi ini sangat membuka kemungkinan anak-anak ini mendapat pengaruh lingkungan dari narapidana dan ada kemungkinan mereka bisa juga menjadi korban di dalam sana (mengingat maraknya kasus pelecehan seksual di dalam penjara).

Satu fakta yang gue dapet adalah bahwa satu-satunya gubernur yang dalam masa jabatannya memperjuangkan didirikannya infrastuktur dan bangunan Lapas khusus untuk anak adalah Pak Ahok, yang kemudian dalam proses eksesukinya beliau terjerat kasus, sehingga prosesnya pun berhenti berjalan. Fakta ini gue dapet dari Mas Yerry Patinasarani, sesoerang yg bertahun-tahun aktif dalam LSM-nya. Ditambah termyata dana pemerintah pertahunnya untuk anak-anak sangat kecil sekali.


Informasi-informasi ini semakin mempengaruhi emosi gue pada saat sebelum memasuki Lapas. Dalam kesempatan ini gue bersama dengan Abigail Cantika (GAC) dan Mas Yerry Patinasarani. Di dalam Lapas, ternyata gue menemukan anak-anak yang tidak beda selayaknya anak-anak dibawah usia 18 tahun. Ya, mereka memang pernah melakukan kesalahan, namun hal-hal tersebut sebagian besar dilakukan mereka dalam keadaan yang memaksa, dan mereka memyesalinya. 

Mereka anak-anak yang juga memiliki potensi untuk tumbuh berkembang dan belajar dari kesalahannya. Mereka harus dipersiapkan dan dibimbing untuk mengolah potensi krearifnya sehingga pada saat keluar dari Lapas, mereka bisa berjuang dengan mandiri, berkarya di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan pada nantinya. Disini Manusaya mengambil peran dengan melakukan pemberdayaan melalui sharing session dan workshop kepada anak-anak tersebut, dan hal ini juga menjadi alasan mengapa gue ikut berkontribusi.

Selama 15 menit gue berkesempatan bercerita betapa gue pun pernah mengalami adalah masa-masa gagal. Dimana saat itu hidup gue dipenuhi dengan kegagalan, meski mungkin berbeda, namun ygang ingin gue tekankan adalah bahwa esensinya kita semua punya masalah dan problema masing-masing yang sama yaitu kegagalan.

Sampai kapan pun gue nggak akan pernah mengerti mereka, karena gue tidak pernah merasa ataupun berada di kondisi mereka. Tapi gue pernah merasa menjadi orang yang 'gagal'.

Jika dilihat dari satu aspek, keberadaan dan status mereka adalah sesuatu yang patut disesali. Namun  jika dilihat dari aspek yang lain, gue mengingatkan mereka betapa beruntungnya mereka bertemu kegagalan di usia dini. Itu berarti lebih dini juga mereka bisa belajar, bangkit dari keterpurukan, dan lebih dini belajar untuk menjadi orang-orang kuat yg siap menghadapi kerasnya dunia.

 “Karena gagal itu pasti, dan dunia pasti berputar. Jadi kalau kalian gagal sekarang, berarti kalian punya kesempatan lebih dini untuk belajar dari kegagalan dalam usia yang cukup dini, dan ambil pelajarannya - karena gue yakin kalian akan menjadi manusia-manusia yang lebih baik lagi di masa depan. Punya mimpi itu sangat penting, tapi yang gak kalah penting adalah kemampuan untuk selalu bangkit dari setiap kegagalan.

Selain sharing session, yang paling berkesan adalah sesi melukis bersama dengan sekitar 60 orang anak-anak yang melewati masa “hukuman” disana. Sesi dimulai dengan gue meminta mereka menulis nama, juga pikiran dan perasaan mereka saat itu hingga saling menumpuk dan menjadi sebuah abstraksi, sebuah ekspresi.

Dalam proses ini juga gue berusaha untuk berempati dengan mereka, ada beberapa hal yang gue temukan dan membuat tersentuh seperti tulisan, kangen rumah, pengen pulang, kangen keluarga, ingin jadi seniman dan sebagainya.

Dalam proses ini juga kami saling merespon satu sama lain, sesekali gue tanyakan ke mereka, apa  alasan yang membuat mereka bisa berada disini. Beberapa diantaranya menjawab karena tawuran, mencuri atau ada juga yang ketahuan menjual ganja. Anak yang terpidana kasus menjual ganja melukis gambar dua daun ganja di atas kanvas. Saat itu gue melihat mereka seperti anak-anak lainnya, mereka adalah anak-anak baik yang punya banyak potensi tapi melakukan kesalahan karena keadaan yang memaksa. 

“Gagal, Belajar, Tumbuh : Saya Manusia” / Acrilyc & Marker on Canvas / 100 x 240 cm (Triptych) / 2018. _ Beberapa hari yang lalu melalui @manusaya.project dapat kesempatan untuk pertama kalinya bersama @AbigailCantika dan Mas @yerry_pattinasarany berkunjung ke dalam LPK Salemba dan berbagi pengalaman dengan adik-adik disana. Selain sesi tersebut, yang paling berkesan adalah sesi melukis bersama sekitar 60 anak2 yang melewati masa “hukuman” disana. Sesi dimulai dengan gw meminta mereka menulis nama, juga pikiran dan perasaan mereka saat itu hingga saling menumpuk dan menjadi sebuah abstraksi, sebuah ekspresi. Dalam proses ini juga gw berusaha untuk berempati dengan mereka, ada beberapa hal yang gw temukan dan membuat tersentuh seperti tulisan, ”kangen rumah”, “pingin pulang”, “kangen keluarga”, “ingin jadi seniman” dan sebagainya. Dalam proses ini juga kami saling merespon satu sama lain, sesekali gw akan tanya ke mereka, apa yang membuat mereka ada disini. Beberapa diantaranya, ”Tauran Kak” atau “Ketauan Jual Ganja Kak” sambil melukis gambar dua daun ganja di atas kanvas. Serta beberapa kasus pidana lainnya. Saat itu gw melihat mereka seperti anak2 lainnya, anak-anak baik yang punya banyak potensi tapi melakukan kesalahan karena keadaan yang memaksa. _ Karya ini adalah sebuah respon cepat gw dari apa telah kami lakukan bersama, berinteraksi dan berkolaborasi. Ya, karya ini adalah hasil kolaborasi gw dengan anak2 disana. Besar harapannya jika karya ini terjual maka 100 persen keuntungan akan gw percayakan ke @Manusaya.Project untuk digunakan membantu program2 yang memberdayakan anak2 ini. Sehingga pada saat keluar dari LPK, harapannya mereka punya ilmu dan keterampilan untuk berkarya dan berbakti di tengah2 masyarakat. Jika tertarik dengan karya ini, silahkan menghubungi @Ruci.Art untuk info lebih lanjut. _ Kontribusi kecil ini akan menjadi jauh lebih besar dan berarti dengan dukungan teman2. Terimakasih. A/A
A post shared by Abenk Alter (@abenkalter) on


Karya ini adalah sebuah respon cepat gue dari apa telah kami lakukan bersama, berinteraksi dan berkolaborasi. Ya, karya ini adalah hasil kolaborasi gue dengan anak-anak di Lapas. Besar harapannya jika karya ini terjual maka 100% keuntungan akan gue percayakan ke @manusaya.project agar digunakan untuk program-program yang bisa memberdayakan anak-anak di Lapas. Sehingga pada saat keluar dari Lapas, harapannya mereka punya ilmu dan keterampilan untuk berkarya dan berbakti di tengah-tengah masyarakat.

Jika tertarik dengan karya ini, teman-teman bisa menghubungi @ruci.art untuk informasi lebih lanjut. Kontribusi kecil ini akan menjadi jauh lebih besar dan berarti dengan dukungan teman-teman. Terima kasih!

A/A

No comments :

Post a Comment