MAJU TERUS MUSIK INDONESIA

Monday, March 9, 2015

Hari ini adalah “Hari Musik Nasional”.

Saya tidak akan berbicara membuat penilaian mengenai Industri Musik Indonesia saat ini. Harusnya lebih gimana, atau keadaannya sekarang seperti apa. Karena itu adalah hal di luar kuasa saya, yang tidak akan pernah bisa saya kontrol sampai kapan pun (kecuali suatu hari nanti gimana caranya saya punya uang banyak hehe). Satu-satunya yang saya ingin katakan mengenai industri Musik Indonesia adalah, “Optimis untuk berkembang ke arah yang lebih baik”. That’s it.

Saya ingin berbagi sedikit pandangan sebagai pelaku industri musik. Selama proses saya mengerjakan album sendiri dan mulai bersolo sampai akhirnya mengeluarkan album pertama saya #SelamatDatang , saya belajar banyak banget.

Pertama, satu hal paling penting yang saya pelajari dan harus dimiliki seorang pelaku industri kreatif (musik, produk, visual, dll) adalah mental yang positif. Saya percaya mental yang baik akan menghasilkan attitude yang baik, persepsi yang baik, karya yang baik.

Saya sering banget denger celotehan mengenai industri musik, “Susah men, sekarang industrinya lagi kaya gini”, “Susah men sekarang jualan fisik album, sekarang eranya digital soalnya”“Susah men promo di radio, semuanya berduit”,“Susah men indie label kalo promo, kalo major label enak punya capital untuk media buying”, “Sekarang industri musik lagi nggak bagus” dan sebagainya, yang tanpa disadari sering kali mengecilkan kemudian mengurung semangat untuk berkarya.

Tanpa bermaksud mengecilkan persepsi di atas, instead of  “susah”, saya lebih suka memilih kata “menantang”. Setiap era punya tantangannya masing-masing. Saya pribadi percaya tantangan membuat kita semakin kreatif. Jika industri sedang dalam proses transisi fisik ke digital misalnya, tugas kita sebagai pelaku industri kreatif adalah mencari metode atau solusi kreatif sambil terus berkarya sebaik-baiknya.

Gampang? Ya nggak lah. But if it’s your dream then it is worth fighting.

Find ways, do something about it.

Model bisnis musik sekarang tidak sesederhana dulu, yang saya lihat menarik sekarang adalah para musisi non-major label pada umumnya mencari, memilih dan memiliki caranya masing-masing, seolah mencari model bisnis baru yang kira-kira mampu menghidupkan karya. Menurut saya, itu yang membuat semua ini menjadi lebih menarik.  Menarik untuk melihat bagaimana setiap musisi unik dan berbeda, membuat saya bisa banyak belajar dari sana, curi-curi sedikit untuk kemudian dimodifikasi dan membuatnya cocok dengan karakter saya, atau mungkin diaplikasikan di lain waktu.

Kedua, never expect others to do it for you. Mulai kerjain dari apa yang bisa dikerjain. Jangan berharap ada yang bikinin lagu, atau berharap ada produser berbaik hati mau bantu , atau berharap tiba-tiba ada investor mau minjemin duit dan menggelontorkan dana untuk produksi album dan sebagainya atau berharap ada major label yang menawarkan kontrak kerjasama. By the way major label bukan satu-satunya jalan dimana kita bisa punya karir sebagai musisi, it is NOT.

Banyak banget jalan lain yang bisa diambil untuk memiliki karir sebagai musisi. Banyak kok buktinya, musisi-musisi yang non-major label tapi survive dan bisa hidup dari karya. Kok bisa? Karena mereka tidak bergantung sama semua itu, mereka ngga berharap ada orang lain membantu dan melakukannya untuk mereka. Instead, mereka terus berkarya sebaik-baiknya sambil mencari metode yang cocok dan sesuai dengan segmen mereka.

Banyak kok contohnya yang berhasil, banyak banget. Pandji Pragiwaksono dan Maliq & D’essentials adalah dua dari sekian banyak musisi dan seniman yang menjadi inspirasi saya dalam usaha untuk survive dan menggeluti industri musik. Mereka hidup dari karya mereka, dengan bersandar pada dirinya sendiri sambil terus melakukan inovasi baik dalam segi karya maupun metode bisnis.

Ngga ada uang? Percaya sama saya, kalaupun kalian punya uang, kalian juga belum tentu bisa menyelesaikan proses bikin album atau bahkan nulis lagu, karena bukan berarti ada uang terus semuanya jadi mudah. Dana hanya pendukung dan alat. Yang penting adalah apa yang ada di dalam kepala dan hati. Visi, konsep, ide, kemauan dan kepercayaan terhadap diri sendiri. Pasti akan ada jalannya, tapi penting untuk memulai langkah pertama dulu, dari melakukan apa yang kita bisa. Waktu saya memutuskan bikin album sendiri, saya bahkan ngga punya sepeser pun. Ngga ada yang mudah.

Tulis lagu sendiri, promo sendiri, pilihan media sosial banyak, bikin media sendiri yang keren. Ngga ada tawaran manggung? Bikin panggung sendiri, rekam performance di Youtube, yang sederhana aja cukup. Buat orang sebanyak-banyaknya tau karya lewat media sosial. Soundcloud, Instagram, banyak pilihan. Be independent, believe that only you could make it happen.

Ketiga, jadi diri sendiri dan jangan pernah sekali-kali membandingkan diri dengan orang lain, “Mereka enak di major label jadi didukung maksimal”, “Mereka enak udah terkenal”, “Mereka enak punya management” dan sebagainya. Satu-satunya saingan, kompetitor dan tantangan yang harus di hadapi adalah diri sendiri. Setiap musisi punya jalan dan tantangannya masing-masing. Everyone is fighting a battle you know nothing about. Jadi fokus aja sama perjuangan sendiri. Fokus membuat karya yang lebih baik lagi.

Saya diingatkan kembali oleh teman baik saya, Iga Massardi dari Barasuara, lewat tweet-tweetnya beberapa hari yang lalu,

“Banyak yang mengira menjadi terbaik adalah dengan menjadi yang tercepat, yang terkuat, dan yang terbesar” - @igamassardi

“Padahal menjadi yang terbaik adalah tentang berdamai dengan diri sendiri dan memahami apa yang sedang terjadi” - @igamassardi

“Kita sering dibuai oleh peringkat. Padahal kebahagiaan adalah hal yang tidak memerlukan persetujuan dan penilaian orang lain - @igamassardi

“Semua bisa dijalani perlahan dan teliti. Perhatian dan memahami. Maju dan mencintai.” -@Igamassardi

“Apapun yang sedang kau kerjakan atau menghadangmu sekarang, pahami itu pelan-pelan lalu bentuklah sesuai dengan cara yang kau tau” - @Igamassardi

Tweet-tweet di atas mengingatkan saya bahwa personally, its never about being the best in the industry, it’s about being the best version of “me”. Karena persepsi ini yang akan memacu saya untuk fokus menjadi diri sendiri sebaik-baiknya dan pastinya membuat keberadaan saya unik. Setiap orang unik, tapi sedikit yang berani untuk jadi dirinya sendiri. Sering tersadar ternyata kerap kali saya juga suka membandingkan, tapi prinsip di atas yang selalu menolong saya untuk terus percaya diri.

Saat jadi diri sendiri, akan banyak yang bilang karya kita ngga cukup bagus, ngga bisa dijual, ngga original, dan sebagainya yang ngebuat kita merasa kecil. But you know what? They don’t know you, mereka gatau seberapa besar mimpi kalian. Cuman kalian yang tau bener-bener apa yang jadi mimpi kalian, jadi ya lakuin aja. Minta feedback, opini itu harus untuk menambah pengetahuan dan sebagai kritik membangun, tapi jangan satu kalipun ngebuat kita ngga percaya diri.

Kalau apa yang kalian buat belum diterima, jangan kemudian menyalahkan orang lain (industri, label, dll) tanya sama diri sendiri, “karya saya sudah cukup baik belum ya?”, “Apa yang kurang?”, Harus diapain lagi ya?”, “Apakah tema penulisan lagunya?”, “Apakah aransemennya terlalu susah?”, “Apa ini saya, atau ternyata cuman pengen keren-kerenan aja?”. Terus evaluasi dan jangan pernah puas dalam hasil dari proses kreatif.

Keempat, do it because you love it, because you believe in something.  Kalau mau tajir melintir, ngga usah jadi musisi, ngga usah jadi seniman. Bisnis batu bara atau tambang mungkin biar uangnya banyak. Setiap orang punya prinsip hidupnya masing-masing, but for me life is never about getting rich and making lots of money, life is about making meanings, it’s about finding who i really am. Dan lewat seni, saya bisa bercermin.

Saya inget di sebuah kesempatan saya main ke Organic (studio Maliq & D’Essentials) Widi sedang bercerita ada seseorang yang berkomentar, “Industri lagi ngga bagus lo malah bikin label dan distribusi bro.. Ngapain?”. Saat itu Widi cuma bilang ke saya, “Ya susah sih kalo persepsinya cuman uang/bisnis, mereka ngga akan ngerti. Harus cinta sih.. Kalo bukan kita yang ngejalanin terus siapa?”

Kelima, networking, bergaul sebanyak-banyaknya. EQ Puradiredja pernah bilang sama saya dalam sebuah kesempatan ngobrol-ngobrol,”Music is never about music alone”. Musik bukan cuma tentang bikin musik, itu penting dan udah kewajiban sebagai musisi untuk berkarya sebaik-baiknya. Tapi ada hal lain yang ngga kalah penting. Kenalan, ngobrol, minta masukan. Sama siapa aja, temen-temen musisi, media atau bahkan orang awam. Banyak pemikiran-pemikiran mereka yang kita belum tau, dan pasti bisa menjadi masukan untuk lebih baik kedepannya, baik dalam kematangan berkarya maupun menentukan jalan pilihan. Kalian ngga akan pernah tau apa yang seseorang punya, ilmu, pemikiran, pengalaman yang pasti sangat berharga dan bisa kita dapet dengan ngobrol-ngobrol.

Saya percaya Industri Musik Indonesia kedepan akan lebih baik lagi, apabila manusianya, pelakunya dan penikmatnya punya mental yang lebih baik, mental untuk selalu mau belajar dan terbuka akan hal-hal baru. “Revolusi Mental” kalo kata Jokowi, which is TRUE. Musisi-musisi Indonesia harus selalu menggali value-nya masing-masing dan terus menghargai dan mendukung karya sesama musisi.

Sekali lagi “Selamat Hari Musik Nasional”, maju terus musik Indonesia!

@AbenkAlter

5 comments:

  1. Di Pro 2 Bengkulu kalo mau promo single sama sekali nggak bayar kok kak Abenk. Kitanya malah kadang susah payah nyari CP artis buat sekedar phoner :D

    Setuju banget sama judulnya MAJU TERUS MUSIK INDONESIA! Makin sukses ya kak Abenk :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak komentarnya, saya mau banget ditelfon hehe : )

      Delete
    2. Beneran kak? Boleh kirim materi single kakak ke MD kami kak? : aryepro2@gmail.com
      Thanks kak Abenk :))

      Delete
    3. Boleh banget nanti manager saya yang contact ya namanya Astrid. Makasih Intan : )

      Delete
  2. bener banget kalau mau nyari musik bagus tinggal dateng aja ke jgtc, java jazz, festival musik lainnya sama nonton youtube susah amet. abenk gue jd inget kata2nya om ari lasso ex dewa 19 dia pernah bilang kayak gini "masih banyak musisi bagus tp media konvensional kurang menghargai mereka' katanya di sounds from the corner . bener juga sih tp jgn nyerah masih banyak info musik.

    ReplyDelete

OBLIVIATE © 2017
Template by Blogs & Lattes