Besok saya pilih ____ Ngga apa-apa kan?

Tuesday, July 8, 2014


Minggu lalu, hari Jum'at tanggal 4 Juli 2014 karena mendapatkan informasi dari seorang teman yang cukup jadi panutan bernama Retha Dungga, saya mendatangi sebuah diskusi publik bertemakan “RUU Kebudayaan – Menjamin atau Menyandera” di Taman Ismail Marzuki yang diadakan oleh KSI (Koalisi Seni Indonesia).

Serius banget yes? Hahaha

Memang tema diskusinya terkesan serius, namun hal ini menarik untuk saya karena sebenarnya perihal “Kebudayaan” bukanlah hal antik atau dibutuhkan suatu pengetahuan yang khusus untuk mengenalinya.

Pembicara dalam diskusi ini antara lain adalah M.Abduh Aziz (Ketua Pengurus KSI), Dedi Suwendi Gumelar alias kita lebih familiar dengan Mi’ing (Komis X DPR RI), Prof. Dr.Kacung Marijan, Ph.D. (DirJen Kebudayaan Kemendikbud RI) dan Dr.Hilmar Farid (Akademisi).

Kebudayaan adalah sesuatu yang erat di kehidupan kita bermasyarakat, cara kita berbicara dengan orang lain, sopan santun dengan orang tua, atau contoh yang praktis misalnya mata kita yang tidak pernah lepas dari layar smartphone atau headphone yang selalu nempel di kuping walaupun sedang di dalam kelas, ini adalah contoh bagian dari budaya.

Lebih tepatnya menurut saya “Kebudayaan” adalah nilai-nilai berkehidupan yang terbentuk dari ekspresi rasa dan pikiran,  adat istiadat,  serta pengaruh lingkungan.

Nah diskusi ini membahas mengenai, niatan pemerintah yang akan membuat sebuah Undang-Undang yang berkaitan dengan kebudayaan. Karena konteksnya adalah Negara, berarti hal yang akan dirumuskan dalam UU mencangkup wilayah kebudayaan yang lebih luas lagi. Bukan hanya perorangan, kelompok, atau etnis, namun pembahasan kebudayaan sudah dalam konteks Negara, yang akan mengatur seluruh 250 juta masyarakat Indonesia dengan beragam latar belakang, adat istiadat, agama juga bahasa.

Ada sentimen yang muncul, dan juga tidak luput adanya kekhawatiran. Gampang deh, pasti kita males lah ya diatur-atur apalagi sampai dibatasin dalam berekspresi maupun berkarya, terutama untuk temen-temen yang berkecimpung di industri kreatif seperti saya :)

Tapi sebagai contoh, kita pasti juga sebel kurang lebih dalam kurun waktu 10 tahun kebelakang, begitu banyaknya saudara-saudara kita yang tertindas dan hak-hak berbudaya-nya digerus oleh mereka yang radikal dengan mengatasnamakan Tuhan dan Agama. Mereka yang dengan mudah mengkafir-kafirkan dan menganggap sebagai golongan yang paling bener, bukan hanya dalam hal keyakinan, tapi dalam tata cara berkehidupan. Nah ini adalah salah satu dari isu kebudayaan di Indonesia.

Ada bagusnya ada buruknya, ada baiknya ada kurang baiknya, tapi banyakan mana? ini yang saya juga ngga tau pasti haha makanya saya tertarik dateng ke diskusi ini. Sejauh apa UU ini akan berpengaruh, seluas apa UU ini akan diaplikasikan dalam kehidupan berkenegaraan.

Koalisi Seni Indonesia (KSI) mempertanyakan seberapa jauh dibutuhkannya UU Kebudayaan ini.  Apalagi kalo masalah pembatasan ekspresi rasa dan pemikiran, pasti aktifis, budayawan maupun seniman menjadi orang-orang yang paling depan  untuk mengkritisi. Seperti contoh kasus yang terjadi dalam momen disahkannya UU Perfilman, dan UU Pornografi.

“Apa iya Negara harus ikut campur dalam hal penentuan kebudayaan ini ?”,

“Sedangkan kebudayaan adalah satu hal yang terus berkembang seiring waktu?”,

“Bukannya justru dengan adanya UU Kebudayaan ini, seolah-olah membatasi perkembangannya?”

Kurang lebih pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang muncul dalam diskusi.

Singkat cerita setelah pembahasan yang cukup mendalam, RUU ternyata masih dalam tahap draft kasar dan masih terbuka untuk pembahasan, kritik dan saran terutama dari para budayawan dan seniman. Saya sangat berharap presiden terpilih mendatang masih akan lebih membuka ruang-ruang diskusi  untuk hal-hal seperti ini.

Untuk saya pribadi, salah satu hal yang menarik dari diskusi ini adalah sebuah pertanyaan yang datang dari salah satu peserta diskusi. Inti pertanyaan beliau, ”Untuk apa Negara membuat suatu UU Kebudayaan, apabila pertanyaan paling esensial mengenai apa itu kebudayaan Indonesia belum terjawab?!”.

Karena menurut pengamatan beliau, sejak Indonesia berdiri menjadi sebuah Negara sampai sekarang, selalu ada pertentangan dan diskusi yang tidak kunjung berakhir antara berbagai pihak mengenai “Apa itu Kebudayaan Indonesia” dan belum pernah terjawab secara kongkrit karena memang cukup sulit merumuskan perbedaan yang ada di Indonesia. Bayangkan variasi tradisi dan sebagainya.

Bagian yang lebih menarik untuk saya pribadi dari pernyataan dan pertanyaan di atas, adalah tanggapan dari salah satu pembicara yang cukup saya kagumi karena kepintarannya dan terlihat beliau cukup menguasai bidangnya. yaitu Pak Hilmar Farid.

Seingat saya beliau mananggapi dengan menjelaskan, ”Bahwa justru perdebatan itu adalah suatu bentuk/aspek dari kebudayaan kita yang ada, dan justru dari ruang-ruang perdebatan tersebut yang menyebabkan kebudayaan mampu berkembang seiring dengan pemikiran dan pemahaman mengenai kebudayaan itu sendiri. Tugas Negara, adalah memastikan keamanan dan menengahi perbedaan tersebut, serta menjamin bahwa setiap warga Negara mendapatkan hak-nya sesuai dengan Undang-Undang Dasar”.

Maka, apabila memang disahkan UU Kebudayaan ini, sebaiknya tujuan utamanya bukanlah menentukan Kebudayaan Indonesia yang seperti apa namun bertujuan untuk menjaga warisan ragam budaya yang telah ada, dan memastikan bahwa kebudayaan dapat terus berkembang dan semakin kaya melalui aktualisasi dari potensi budaya yang telah ada, salah satunya dengan membuka media dan ruang diskusi pemikiran serta pemberdayaan manusia.

Dari tanggapan ini, kemudian menjadi masuk akal dan seakan-akan cukup menjawab untuk saya secara pribadi dari pertanyaan sang penanya, bahwa salah satu ciri kebudayaan Indonesia adalah “Kemajemukan”, keragamannya atau bahasa keren-nya Pluralitas. Indonesia terbentuk dari nilai-nilai ini. Bahwa kemajemukan di Indonesia adalah suatu hal yang absolut, dan tanpa kemajemukan tersebut, Indonesia bukanlah Indonesia. Apabila setiap Warga Negara Indonesia mampu menjaga nilai-nilai ini maka seharusnya Indonesia mampu menjadi contoh dan teladan bagi dunia Internasional, sebagai Negara besar yang toleran dan memeluk perbedaan.  Indah banget ya? : )

Nah, selama kurang lebih sebulan ini kerasa banget untuk saya pribadi (pasti teman - teman juga ) di social media kita masing-masing betapa kita semua turut langsung maupun tidak langsung dalam kemeriahan kampanye Pemilihan Presiden. Cukup intens ya? Hehe, tapi jujur saya bangga ada dan hidup di zaman ini dimana kita relatif  bebas untuk bersuara dan menyuarakan pemikiran kita.

Begitu banyak figur dan teman-teman yang menjadi panutan disekitar saya sibuk dan semangat turut mengkampanyekan pilihannya masing – masing. Ada yang memilih untuk berkoar-koar sambil turut mengajak untuk turut mendukung pilhannya. Ada yang dengan bangga menyuarakan dan memasang nomor pilihan di avatar masing -masing. Tapi ada juga yang memilih untuk tetap merahasiakan pilihannya atau istilahnya LUBER (Langsung Umum Bebas Rahasia). Tak ketinggalan juga mereka yang dengan integritas dan alasan keyakinannya tetap golput, atau yang terakhir emang males aja atau ikut-ikutan dan memilih untuk ignorant.

Senyum melihat mereka yang walaupun berbeda tapi saling menghormati. Namun cukup miris juga setiap tau adanya kampanye-kampanye di jejaring sosial temen-temen yang tidak jarang menjatuhkan dan menjelekan pilihan. Beberapa kali juga saya lihat statement cemoohan, ”Ngapain sih sok-sok ngerti politik?” atau “Lo pikir dengan lo pasang avatar nomer pilihan, lo jadi yang paling tau politik?”, dan sebagainya. I mean, come on man… itu pilihan lah. Kalo lo milih untuk tidak terlibat atau tidak pasang nomer avatar ya itu hak lo, kalo mereka sebaliknya itu hak mereka. Ngga perlu “Nyinyir” , kenyinyiran itu ngga asik banget. "Nyinyir kan pilihan gw juga", well oke memang, tapi coba pikir deh apa dengan kenyinyiran lo ngasih solusi? apa jadi kontribusi yang positif? apa cuman jadi sebatas kepuasan "menjatuhkan" saja? :)

Maksud saya kenapa kita ngga coba hargai pilihan itu, hargai perbedaan itu atau kalau mau lebih keren kita cari tau fakta-fakta yang membuat mereka meyakini pilihan yang berbeda dari kita. Dengan begitu kita mencoba memahami yang lain kemudian sadar dan menerima bahwa perbedaan-perbedaan itu ngga mungkin diseragamkan, sekali lagi kemajemukan itu adalah Kebudayaan Indonesia.

Yuk kita terima, tetep membuat suasana yang kondusif di tengah-tengah perbedaan itu, diskusi boleh, debat boleh, kritis tapi lebih baik ngga usah “nyinyir” lah sebisa mungkin mengurangi judgment-judgment negatif. Sadar bahwa kalian ataupun saya bukan yang paling tau segalanya. Kalo kata salah satu idola saya Pandji, mampu dewasa untuk bisa menerima, “sepakat untuk tidak sepakat”.

Tantangannya adalah bukan mengurangi perbedaan tapi bagaimana kita mengangkat perbedaan menjadi elemen yang memperkaya persatuan.

Honestly, the world has plenty of critics already. Be an encourager. Memang terkadang kita lebih semangat untuk memberi kritik yang cenderung menjatuhkan, jika dibanding memberikan kritik yang membangun. Hal ini juga berulang kali saya ingatkan kepada diri saya sendiri, dan mencoba mengaplikasikannya di keseharian. Masih jauh hehe… ya saya masih belajar juga.

Okay besok Pilpres, siapapun pilihannya, siapapun pemenangnya, saya sangat-sangat berharap Presiden berikutnya mampu untuk mengajak Warga Negara-nya untuk turut serta menjaga kemajemukan dan keragaman ini sebagai bagian dari Kebudayaan kita, Kebudayaan Indonesia.

Kalian pilih siapa? Kalau saya pilih Jokowi, ngga apa-apa kan ? :) 

Salam Dua Jari,

Abenk Alter

No Comments

Post a Comment

OBLIVIATE © 2017
Template by Blogs & Lattes