DON'T SETTLE

Bekerja sesuai passion mengajarkan gw bahwa uang bukanlah hal utama. Jika kita melakukan sesuatu “hanya” karena uang saja, berarti kita membatasi diri kita. Kenapa gw bilang kita membatasi diri? Karena uang adalah sesuatu yang bersifat material, dan material adalah sesuatu yang “fisik” dan fisik adalah seseuatu yang terbatas. 

Sure, kita butuh uang. Tetapi untuk menjadikan uang sebagai satu-satunya hal yang utama dalam bekerja dan beraktivitas berarti mengabaikan potensi yang tidak terbatas di dalam diri kita yang “menjerit” untuk didengarkan dan minta untuk diaktualkan ke dalam sebuah karya atau kreasi. Alasan utama dari bekerja atau kita melakukan sesuatu harusnya adalah karena kita suka, terlebih “Cinta” terhadap hal itu. Gw percaya hanya dengan alasan “Cinta” maka kita akan menemukan kebahagiaan yang otentik dalam mengerjakan apapun aktivitas yang menjadi rutinitas kita. 

Sering kali kita merasa lelah terlebih lagi stress yang tidak berkesudahan dalam rutinitas. Bayangkan jika kita tidak menemukan alasan yang lebih dari hanya sekedar uang? Gw pernah ada diposisi itu, dan rasanya cukup menyiksa ya… hanya melakukan sesuatu karena uang. Tanpa disadari kita akan terpenjara dalam sebuah rutinitas, terlebih “mindset” yang mungkin bisa gw bilang sebagai “lingkaran setan”. Melakukan sesuatu berdasarkan passion juga berarti membuka peluang bagi hal-hal yang luar biasa baik dan tidak berbatas untuk datang dan menambah nilai dalam hidup. Kalau sepertinya belum tau apa yang menjadi passion, gw pun juga pernah merasa seperti itu.. tapi seperti kata Steve Jobs, “The only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it.”

A/A

HIDUP DARI KARYA

Beberapa waktu yang lalu, salah satu teman baik gw bilang,” Enak banget ya lo dan Andra (istri) bisa mengerjakan hal-hal yang lo suka dan hidup dari situ. Ngga banyak loh yang bisa kaya kalian”. Di lain kesempatan salah satu klien saya juga pernah nyeletuk berkata,” Enak yaa mas Abenk sehari-hari kerjanya sesuai passion”. Jujur gw merasa sangat bersyukur atas kenyataan bahwa gw bisa “sibuk” sesuai passion. Memang sudah menjadi salah satu impian gw untuk “Bisa Hidup dari Karya”. Dan sekarang, walaupun baru sekian persen dari tujuan, gw sudah merasakan kebahagiaan yang luar biasa dan bersyukur kepada Yang Maha Pencipta. 

Balik ke cerita tentang teman gw yang berkata demikian, di saat yang sama gw pun membalas pernyataannya dengan mengatakan, “Ya… ngga banyak juga orang-orang yang berani ambil resiko untuk hidup kaya gw dan Andra”. Dan ia pun menjawab, “Iya juga sih..”. Mungkin sebagian orang masih hanya melihat kehidupan dari orang- orang yang berprofesi sesuai passion itu sangat menyenangkan, which is true. Tapi jangan hanya melihat sisi senangnya saja. Jangan lupa bahwa hidup sesuai passion itu butuh kerja keras, dan yang paling utama adalah sebuah keberanian. Keberanian atas apa? Atas ketidakpastian (karir, finansial, dll), atas penilaian orang-orang terdekat dan disekitar yang mungkin akan melihat lo sebelah mata pada saat memulai, dan yang paling utama buat gw adalah keberanian untuk terus percaya. Percaya terhadap mimpi, terhadap apa yang lo mau, dan terutama terhadap diri sendiri. 

Gw pribadi adalah orang yang percaya bahwa setiap orang itu bisa hidup dari potensi yang telah diberikan Maha Pencipta, dan gw melihat “diri gw sendiri” sebagai studi kasus untuk gw sendiri, untuk membuktikan bahwa hal yang gw percaya, which “seseorang bisa hidup dari potensi dan karya” adalah sebuah yang nyata dan bisa untuk dilakukan. Terdengar naïf memang, tapi gw yakin bisa. Gampang? Ya nggalah. Bisa? Bisa banget! Tapi inget ga ada yang instan, butuh proses, butuh kerja keras, butuh keberanian dan kepercayaan yang sangat besar.

A/A

MEMBUKA 2018


Memulai blog ini dengan harapan minimal at least gue setor tulisan sebulan sekali (resolusi 2018 :D). #JurnalAbenkAlter yang biasanya ada di Youtube Channel, gue putuskan juga untuk diekspresikan dalam bentuk tulisan karena gue menemukan ada hal-hal yang lebih ideal (menurut gue) untuk ditulis. Plus sekalian gue latihan nulis juga :D

Membuka 2018 dengan satu pengalaman yang luar biasa. Awal Januari kemarin gue menerima undangan dari sebuah inisiatif sosial bernama Manusaya Project. Manusaya Project adalah inisitatif sosial yang fokus kegiatannya berhubungan dengan pemberdayaan manusia, dalam hal ini secara spesifik adalah anak-anak. Melalui e-mail mereka meminta gue untuk turut berkontribusi dalam sebuah acara yang juga menjadi ajang launching mereka sebagai sebuah inisiatif.