Pages

Popular Posts

#SEKARANG ke Bandung

Tuesday, March 15, 2016

Kali ke dua ke Bandung menjalani rangkaian promo  single ke-3 berjudul #SEKARANG dari album #SelamatDatang. Jangan lupa untuk request lagu ini di radio-radio kesayangan kalian :)

@AbenkAlter

#JurnalAbenkAlter - "Renungan Sayap" at Intimate Showcase Vol.02

Saturday, February 6, 2016



Renungan Sayap, lagu favorit saya di album :) Satu-satunya lagu di album #SelamatDatang yang minim elemen musikal. Dalam kesempatan ini kami membawakannya secara berbeda. Dominasi elemen synth dari J Mono dan Yosaviano dalam memainkan Sequencer, cukup berhasil menangkap visi saya dan ArioSeto mengenai arah eksplorasi dan aransemen yang diingikan.

Dokumentasi dari intimate showcase saya yang ke-dua. di Showcase yang tidak terbuka untuk umum ini bukan cuma berbeda konsep dengan yang pertama, tapi secara musik banyak hal baru yang saya coba lakukan. Mulai dari bekerjasama dengan Mahagenta Orchestra yang menambah warna tradisional pada sequencer di beberapa lagu saya, kemudian bermain dengan set yang cukup komplit, sampai mengaransemen ulang hampir seluruh lagunya, sehingga menjadi cukup berbeda jika kalian pernah dengar dari album "Selamat Datang". Abenk Alter x Make the Shift


Follow me @AbenkAlter on Instagram and twitter
Snapchat : AbenkAlter
Facebook Fan Page : https://www.facebook.com/AbenkAlterMusic



Teringatkan Kembali

Friday, January 22, 2016

Udah menuju akhir Januari 2016. Cepet banget ya. Saya mungkin sama seperti kalian, sering banget ngerasa, "waktu kok rasanya makin cepet ya". Makin ngga berasa. Omongan asbun malah bilang, "Iya cepet banget ya waktu tuh, tanda-tanda nih...dunia, mau kiamat kali". Halahhh.. Terlepas dari bener apa ngga, kocak aja sih nyambunginnya jadi suatu hipotesa haha. Pemikiran mengenai,"rasanya waktu cepet banget" ini sering banget mampir dan bikin saya jadi mikir.."iya ya waktu kok terasa cepet banget, apalagi setahun terakhir ini kurang lebih, khususnya di 2015. Ada rasa-rasa gimana gitu, lebih ke agak-agak sedih (drama) dan bikin jadi merenung dan terkadang juga jadi kepikiran hipotesa asbun tadi haha. 

Yang saya pikirin dalam waktu yang cepet berlalu ini adalah apa yang udah saya lakukan dalam hidup. Kalau hipotesa asbun tadi bener, "Apa udah cukup kebaikan yang saya lakukan, apakah saya sudah cukup bermanfaat? Apakah saya sudah menjalani peran saya? Apakah saya sudah memenuhi maksud dan tujuan penciptaan diri saya? Dan yang paling utama adalah apakah saya masih punya banyak waktu untuk orang-orang yang saya sayangi dan cintai termasuk Aura Suri".

"Bukan waktu yang rasanya kok makin cepet, tapi kita yang udah makin banyak fokus pikiran dan sering ngga live in the moment ".

Well balik lagi ke pemikiran mengenai,"waktu kok rasanya cepet banget". Akhirnya saya berkesimpulan, bahwa bukan waktu yang semakin cepet. Tapi beranjak dewasa, porsi fokus pikiran kita yang semakin banyak. Apakah itu tuntutan, pekerjaan, kebutuhan serta kelurga. Fokus pikiran yang terbagi banyak itu yang sering kali membuat kita tidak live in the moment, terlebih dengan ada smartphone di tangan, semakin tersita waktu kita. Definisi live in the moment saya adalah kesadaran akan sebuah realita dimana kita "hadir" bukan hanya fisik, namun akal dan terutama hati.

Orang bijak bilang "Bukan seberapa lama kita hidup yang penting, tapi seberapa bermanfaatnya hidup kita dalam waktu yang singkat", quote yang terasa kontradiktif dan menantang. Tantangan sebenernya - terutama dan paling nggak untuk saya -  adalah untuk mencapai titik seimbang dalam memanfaatkan waktu yang terasa cepat ini sebaik-baiknya (walaupun dalam realitas-nya waktu hidup kita di bumi memang cepat). Try to live in the moment, full-minded, full-hearted in every single time of our lives. Berat? sangat. Tapi setidaknya dengan menulis ini, saya teringatkan kembali untuk berusaha sebaik-baiknya.

@AbenkAlter

#JurnalAbenkAlter - "Terbawa" at Intimate Showcase Vol.02

Wednesday, January 13, 2016




Satu dari sekian video dokumentasi intimate showcase saya yang ke-dua. di showcase yang tidak terbuka untuk umum ini bukan cuma berbeda konsep dengan yang pertama, tapi secara musik banyak hal baru yang saya coba lakukan. Mulai dari bekerjasama dengan Mahagenta Orchestra yang menambah warna tradisional pada sequencer di  beberapa lagu saya, kemudian bermain dengan set yang cukup komplit, sampai mengaransemen ulang hampir seluruh lagunya, sehingga menjadi cukup berbeda jika kalian pernah dengar dari album "Selamat Datang".

Yang Membuat Batin Bahagia.

Saturday, November 28, 2015

”Tanpa mengurangi rasa syukur banyaknya gig event, terutama wedding belakangan ini dan beberapa bulan kedepan. Tapi pengen banget lebih sering lagi manggung kaya semalam, bawain karya sendiri, full set”. 

Tulisan di atas adalah tulisan yang saya post di Path, dan terkoneksi ke Facebook. Memang bisa dibilang dalam setahun saya merilis album masih relatif sedikit kesempatan yang saya punya untuk bisa memainkan dengan maksimal karya musik dan lagu dari album pertama saya, Selamat Datang. Mungkin karena faktor promosi yang belum terlalu maksimal, jadi relatif belum banyak dan merata yang tertarik untuk mengundang saya sebagai hiburan memainkan lagu-lagu di album Selamat Datang

Meskipun juga cukup banyak dan saya amat sangat menghargai yang menunjukan apresiasi dan ketertarikan terhadap karya musik dan lagu yang saya buat, namun kiranya juga belum terlalu cukup untuk membuat saya sering memainkan musik saya secara ideal dan full band. Selama setahun ini dimana saya belajar banyak hal, kesempatan dan tawaran untuk tampil ada, walaupun sebagian besar belum ‘mengizinkan’ saya memainkan lagu-lagu di Selamat Datang secara maksimal, biasanya lebih akustik (gitar, bass, dan drum minimal set karena saya menolak cajon) namun kesempatan juga banyak datang dari resepsi pernikahan dimana sejak awal saya memang memvisualisasikan diri saya sendiri agar bisa ada di segmen itu.

Selain Wedding ranah bermain regular di satu-dua cafe juga saya ambil, lagi-lagi sejak awal, mindset saya walaupun sudah punya album, saya ingin dan tidak menutup kesempatan untuk bermain regular di sebuah cafe. Bagi saya, kesempatan ini merupakan kesempatan untuk belajar lagi, banyak hal. Seperti komunikasi, aransemen musik, dan yang paling penting dalam oleh vokal. Selain manggung, salah satu rencananya adalah untuk bisa bekerja sama dan berkolaborasi dengan brand. Tahun ini, tiga rencana dan proyeksi saya sejak awal, berjalan dan terwujud. Alhamdulillah. Jika bicara pendapatan dan materi saya untuk saya yang memulai lagi dari “nol” dan bukan apa-apa saya merasa sangat bersyukur dan bisa saya katakan berkembang ke arah yang sangat baik, lebih dari cukup dan juga bisa saya katakan, ”Saya bisa hidup dari musik”. Itu baru dari manggung wedding, manggung regular, belum dari kerjasama bersama produk/brand dan belum dari fee saya menulis lagu dan lain-lain. Itu juga baru dari musik, belum karya visual ☺.

Intinya Alhamdulillah saya sudah bisa “hidup” berkecukupan dari melakukan apa yang saya suka, sesuatu yang saya impikan. Tapi untuk saya dan juga mungkin sebagaian besar teman-teman seniman. Kepuasan dan kebahagian tidak hanya hadir dari berapa banyaknya uang yang kami dapat. Tapi seberapa besar karya yang kami buat mampu memiliki dampak dan memberi kesan serta arti di lingkungan dekat, terlebih khalayak luas. Lagi-lagi tanpa bermaksud kurang bersyukur, ini semata-mata adalah bentuk introspeksi tahunan :D Saya jadi berfikir terlepas dari faktor promosi media (Radio, TV, media cetak) yang kurang (Maklum musisi independen, budgetnya ga banyak xp) mungkin memang saya harus belajar dan usaha lebih giat untuk bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Mungkin saya masih harus sering latihan memoles lagu-lagu di karya saya terlepas dari ada tawaran manggung yang ideal atau tidak. Dan terakhir mencari strategi promo dan pemasaran yang tepat.

Sedari awal saya berencana mengeluarkan album pertama, saya memang tidak mengharapkan yang terlalu gimana-gimana, fungsi album Selamat Datang adalah merupakan tiket dan statement saya untuk secara resmi sebagai Abenk Alter masuk ke dalam industri, ngga lantas kemudian saya berharap semata-mata jadi booming. Sekali lagi ini hanya merupakan tiket masuk, dan langkah pertama, untuk kemudian masih banyak proses dan pembelajaran yang harus saya lewati. Mungkin tidak seperti musisi-musisi atau solois lain yang bisa mengeluarkan single-single dulu, sambil melihat respon pasar, kemudian baru mengeluarkan album. Kondisi saya berbeda, keadaan saya berada di sebuah band sebelumnya dan menuntut diri saya untuk megeluarkan statement secara total, yaitu sebuah album.

#AAShowcase2


Well anyway, balik lagi ke kesempatan saya memainkan musik saya secara ideal yang bisa dibilang masih bisa dihitung pake jari, 9 Desember 2014, intimate showcase saya yang kedua kemarin tanggal 19 November 2015 adalah salah satunya. Dan saya amat sangat senang :D Lagi, showcase yang kedua ini saya buat bersama team kecil saya dengan konsep private gig, tidak terbuka untuk umum, hanya 50 undangan saja di sebuah tempat daerah bilangan SCBD bernama Lucy in the Sky. Rencananya memang intimate showcase ini diadakan secara konsisten setahun sekali dengan harapan bisa berkembang dan menjadi ajang temu dan tegur sapa bersama siapapun yang ingin lebih kenal dengan saya dan menikmati musik saya secara live. Yang tidak lupa dikedepankan juga adalah konsep musiknya. Kalau yang pertama pendekatannya lebih sederhana, khusus untuk yang kedua saya melakukan eksplorasi lebih banyak dengan elemen-elemen tambahan yang memperkaya musik di lagu-lagu album selamat datang.

Check Sound
























Yang menarik, banyak hal-hal baru yang saya lakukan sebaai bentuk eksplorasi di showcase ini. Pertama saya bermain dengan orang-orang baru yang mengisi posisi bass, drum dan keyboard dimana belum pernah saya kenal sebelumnya. Kedua, saya menambahkan elemen-elemen yang membuat musik saya lebih meriah dan lebar. Sejak awal perjalanan, saya lebih memilih untuk memainkan musik dengan pendekatan yang sederhana. Ketiga, saya bekerjasama dengan alat tradisional. Ada elemen tradisional yang di ‘take’ secara langgsung oleh Bang Uyung dari Mahagenta Orchestra untuk dimasukkan ke dalam sequencer. Pada awalnya saya berniat untuk berkolaborasi secara live bersama Mahagenta Orchestra, namun karena satu dan lain hal salah satu impian saya itu harus tertunda dan diwujudkan di #LainWaktu. Selain itu saya mengajak Mono dari Neurotic untuk berkolaborasi menjadikan aransemen musik lebih modern dengan sound-sound yang dimainkan dan dihasilkan oleh synth (di kesempatan ini Mono menggunakan Korg). Selain itu permainan Tommy dengan saxophone juga turut andil dalam menjadikan musik lebih meriah dan menghibur. Terakhir saya mengundan Izqie untuk menambah unsur feminism sebaga backing vocal. Benar-benar maksimal dan menyenangkan. Lagi-lagi seandainya saja saya bisa lebih sering menampilkan musik saya dengan format ini ☺.

Showtime!


Photo by @fxdimasprasetyo
Malam itu, 90 persen rencana berjalan sempurna, dari seluruh undangan 90 persen hadir termasuk tiga teman-teman yang memenangkan kuis. Aspek teknis dan musikal kami selelsaikan dengan cukup baik dan memuaskan setelah melakukan sesi latihan sebanyak 4 kali.. Teman-teman dekat yang hadir terlihat terhibur dan menikmati acara erta musik yang saya mainkan, dan terutama yang paling penting TIDAK HUJAN! Hahaha karena itu salah satu hal utama yang membuat saya dan tim cukup was-was. Saya syukuri, tahun ini apa yang saya rencanakan dan bayangkan sebagian besar terlaksana dan tercapai. Tidak saya harapakan dan bayangkan secepat ini secara fisik saya bisa hidup dari apa yang saya sukai dan lakukan. Hanya berusaha fokus menikmati prosesnya. Namun kalau boleh berharap salah satu resolusi tahun depan, dimana slah satu bukan saja kebutuhan hidup yang secara fisik mampu hidup dari pendapatan namun semoga lebih banyak lagi yang mengapresiasi karya saya.

Terimakasih untuk kalian yang telah secara tulus menjadi termasuk orang-orang pertama yang tau dan mengapresiasi karya saya. Karena pada akhirnya yang saya inginkan sebagai pelaku industri bukan hanya fisik yang bahagia karena secara material terpenuhi dan mampu untuk hidup dari apa yang dilakukan dan disukai, namun juga bagaimana karya saya diapresiasi dan memiliki kesempatan lebih banyak lagi untuk secara ideal mengenalkanya kepada teman-teman lewat panggung demi panggung untuk kemudian juga disukai dan mampu memberi makna. Itu yang membuat batin bahagia.

@AbenkAlter

Saya punya beberapa sketchbook merchandise dengan persediaan terbatas dari #AAShowcase2. Akan saya berikan secara cuma-cuma kepada 5 orang yang memberikan komentar/pertanyaan paling seru dan menarik  : )




















OBLIVIATE © 2017
Template by Blogs & Lattes